Minggu, 09 Juli 2017

Akhir cerita kita

Inilah akhirnya cerita kita
Cerita yang dulu kita tulis dengan manis pahit rintangan cerita ketika kita masih saling menggenggam jemari

Cerita saat semuanya masih cinta
Saat cinta di hati masih berwarna
Cerita yang dulu indah kini buram tanpa warna

Cinta kita yang ada masih setia menanti
Cinta kita masih setia saling merindu
Karena setiap malam bisa kudengar rindu itu mendoakanmu

Hingga semuanya hilang
Semuanya berubah pada akhirnya
Saat cinta kita melihat kenyataan itu
Kenyataan bahwa aku dan kamu
Tidak mungkin lagi bersatu

Semua tentang kita sirna sudah
Kecuali cinta yang enggan pergi
Tidak mudah ternyata hidup ini
Terlebih menjalani hari tanpa dirimu
Menghabiskan waktu tanpa sosok dirimu di dekatku

Inilah rasa sakit
Rasa sakit yang dulu kutakutkan
Berharap agar aku tak menyentuhnya
Meski akhirnya aku terluka juga

Sangat menyakitkan semua ini
Aku benci itu aku benci diriku
Kenapa setelah selama ini
sejak saat itu hati tetap masih setia menyimpan cinta untuk kekasih orang

Ingin rasanya kuhapus namanya di hatiku
Agar aku tidak merana dan hancur berkeping keping
Agar mataku kering dari airmata

Ternyata melupakanmu sulit juga
Tidak semudah bacotku
Melupakanmu untukku adalah ibarat memanjat langit, Tiada mungkin

Sungguh tidak pernah terpikirkan olehku
Hubungan kita harus berakhir dengan cara seperti ini
Harus berakhir dengan luka tersakiti

Inilah akhirnya kita
Kita bertemu karena takdir
Kita berpisah juga karena takdir
Sungguh tidak ada rasa penyesalan di benakku bertemu denganmu
Terima kasih karena kau telah menulis cerita bersamaku
Sekarang aku bukan kertas putih lagi
Karena di sana ada cerita kita....

Sabtu, 01 Juli 2017

Ketika aku merasa "ada yang berbeda"

Ada yang berbeda ketika kamu tidak lagi mencintaiku. Aku terlalu takut untuk menyapa pagiku, malamku selalu sibuk dengan berdalih untuk tidak memikirkanmu. Seakan menjadi cekam , kala tanpa aku sadari kamu hadir disetiap aku memejamkan mata.

Aku berulang kali mengubah posisi tidurku agar menjegah air mata jatuh membasahi bantal. Jika kamu tahu betapa kelamnya malamku yang harus ku lalui setelah kau melepasku, tanyakan saja pada bantal tidurku.

Ada yang berbeda ketika kamu tak lagi mencintaiku, hariku tak lagi senyum sendiri, dari ku terbangun hingga membuka ponsel tidak ada namamu lagi muncul di situ. Semenjak kamu pergi, aku menjadi pecandu tidur yang tidak suka lelap. Berharap dalam panjangnya aku menutup mata, kamu sesekali mengucapkan kata yang aku impikan yang membuat senyumku mekar setiap hari saat menatap layar ponsel.

Aku bosan dengan pertanyaan mereka yang terus menanyakan tentangmu. Seakan aku tak boleh sedetikpun melupakan tentang dirimu. Aku menjadi benci ketika bepergian sendiri, aku menjadi benci ketika singgah ditempat yang pernah ku datangi denganmu, aku benci menjawab pertanyaan perihal dimana kamu.

Tidak pernah aku ditelan ketakutan yang kubuat sendiri seperti ini. Untuk membuka semua sosial media yang seharusnya mampu menghiburku aaja aku terlalu takut. Aku takut ketika aku merasakan sendiri, dan seketika itu pula ingatanku langsung kembali kepadamu.